Di Hadapan Kapolres, Ketua DPRD Kutim Kenang Perjuangan Sangatta dari Jalan Tanah hingga Menjadi Daerah Maju

SANGATTA – Ada suasana berbeda dalam kunjungan silaturahmi Kapolres Kutai Timur, AKBP Aryansyah, S.I.K., M.H ke DPRD Kutai Timur, Kamis (16/7/2026). Di sela pembahasan keamanan dan pembangunan daerah, Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, S.T., M.T., mengajak Kapolres dan jajaran menengok kembali perjalanan panjang Sangatta dan Kutai Timur sejak awal pemekaran pada 1999.

Dalam suasana santai dan penuh keakraban, Jimmi yang didampingi Sekretaris DPRD Kutai Timur, Jainuddin, S.E., M.M., mengawali cerita tentang perjalanan Kutai Timur. Sesekali ia bercanda dan tertawa saat mengenang kondisi Sangatta pada masa lalu sehingga suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Di hadapan Kapolres yang merupakan alumni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun 2008 dan sebelumnya menjabat Kasubdit V Tindak Pidana Siber Ditreskrimsus Polda Kalimantan Timur itu, Jimmi menceritakan kondisi Kutai Timur ketika baru berdiri. Saat itu, Kutai Timur hanya memiliki lima kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 146 ribu jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

“Dulu masyarakat Sangatta sangat bergantung pada transportasi sungai. Untuk bepergian ke luar daerah, warga menggunakan kapal dan perahu yang melintasi Sungai Sangatta menuju pesisir sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain. Jalan darat masih sangat terbatas sehingga mobilitas masyarakat jauh lebih sulit dibanding sekarang. Kalau musim hujan, kendaraan sering terjebak di jalan berlumpur. Bahkan ada warga yang harus bermalam di tengah perjalanan karena akses yang sulit dan waktu tempuh yang sangat panjang,” kenang Jimmi.

Jimmi yang lahir dan besar di Sangatta mengaku menyaksikan langsung berbagai perubahan yang terjadi sejak Kutai Timur dimekarkan. Menurutnya, sebagian besar jalan antarwilayah saat itu masih berupa tanah dan kerikil. Transportasi sungai dan laut menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, sementara fasilitas pemerintahan dan pelayanan publik masih sangat terbatas dibanding kondisi saat ini.

Menurut Jimmi, perjuangan para pendahulu, pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat akhirnya membuahkan hasil. Jika pada awal pemekaran jumlah penduduk Kutai Timur sekitar 146 ribu jiwa, kini berdasarkan data BPS telah mencapai lebih dari 453 ribu jiwa. Pertumbuhan tersebut berjalan seiring pembangunan jalan, jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, serta berkembangnya pusat-pusat ekonomi di berbagai kecamatan.

Dalam perbincangan tersebut, Jimmi mengatakan perkembangan pesat Kutai Timur tidak hanya menghadirkan kemajuan, tetapi juga berbagai tantangan baru seperti sengketa lahan, batas wilayah, dan dinamika sosial masyarakat. Cerita demi cerita yang disampaikannya sesekali disambut senyum dan tawa peserta pertemuan. Bagi AKBP Aryansyah yang baru bertugas di Kutai Timur, kisah tersebut menjadi gambaran tentang perjuangan panjang masyarakat membangun daerah hingga menjadi salah satu kabupaten strategis di Kalimantan Timur. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Verified by MonsterInsights