SANGATTA – Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, ST., MT, mendorong Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur untuk meningkatkan promosi kawasan Gunung Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai motor penggerak sektor pariwisata. Ia menilai kawasan karst tersebut memiliki daya tarik istimewa yang mampu bersaing di level nasional maupun internasional karena kekayaan sejarah, keindahan alam, dan keunikan geologinya.
Jimmi menegaskan bahwa Gunung Karst di Sangkulirang merupakan aset alam berkelas dunia yang belum dimaksimalkan secara optimal. Kawasan ini memiliki lukisan gua purba, keragaman hayati yang tinggi, serta formasi geologi yang sangat jarang ditemukan di tempat lain. “Potensi karst ini sangat besar. Jika dikelola dengan baik dan dipromosikan secara masif, pariwisata bisa jadi sektor ekonomi baru bagi Kutim,” ucapnya di Sangat, Senin, 24/11/2025.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera ) PKS ) ini menegaskan pengembangan pariwisata karst bukan hanya memberi dampak pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia menyebut bahwa wisata berbasis alam dan konservasi saat ini menjadi tren, sehingga Kutim harus mampu memanfaatkannya. “Wisatawan datang, ekonomi bergerak, PAD juga bisa ikut naik,” tegasnya.
Walaupun belum resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat telah masuk nominasi sejak 2015. Saat ini kawasan tersebut sedang dalam proses menuju status Geopark Nasional dan UNESCO Global Geopark. Nominasi itu diperkuat oleh nilai sejarah dan kekayaan geologi yang diakui secara internasional.
Pada tahun 2024, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan 26 area di Kalimantan Timur sebagai situs warisan geologi (geosite). Sebanyak 15 geosite berada di Kabupaten Berau dan 11 lainnya berada di Kutai Timur, mencakup total area seluas 1,8 juta hektare. Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat masuk dalam daftar prioritas pengembangan taman bumi pertama di Kaltim.
Pengusulan geopark ini telah dilakukan sejak 2019 oleh Pemerintah Provinsi Kaltim bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Manajer Senior YKAN, Niel Makinuddin, menyebut penetapan status taman bumi akan membawa dampak positif, termasuk pengakuan budaya dan peluang promosi yang lebih luas di tingkat global.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Jimmi menilai sudah saatnya Kutai Timur bergerak lebih serius dalam mengembangkan sektor pariwisata karst. Ia berharap Dispar Kutim memperkuat program promosi, kerja sama, serta mempercepat penyusunan strategi pengembangan kawasan. “Jika pariwisata karst ini didorong maksimal, Kutim akan punya sektor unggulan baru yang mampu mengangkat ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(*)

