H. Bahcok Riandi Desak Pemerataan Pembangunan MYC: “Dapil 4 Jangan Dikesampingkan, Jembatan Telen Prioritas Hulu Kutim”

SANGATTA — Wakil Ketua Komisi C DPRD Kutai Timur dari Fraksi Demokrat, H. Bahcok Riandi, menyoroti ketimpangan perencanaan proyek multiyears contract (MYC) yang diajukan pemerintah daerah. Legislator Dapil IV kelahiran Muara Bengkal—yang kini menetap di Desa Muara Pantun Kecamatan Telen—menegaskan bahwa wilayah hulu Kutim sangat bergantung pada infrastruktur dasar, terutama akses Jembatan Telen yang sudah lama dinantikan masyarakat.

Dalam rapat bersama DPRD Kutim, Dinas PUPR, dan Bappeda pada Kamis (13/11/2025), Bahcok mempertanyakan arah perencanaan MYC yang dinilai tidak mencerminkan pemerataan pembangunan. Ia menegaskan bahwa dari seluruh rancangan yang disusun, tidak satu pun kebutuhan wilayah Dapil IV yang diakomodasi, padahal kebutuhan di Muara Wahau dan Kombeng selama ini sangat mendesak.

Bahcok juga mengingatkan bahwa sebelumnya sudah ada rencana MYC untuk wilayah Muara Wahau dan Kombeng, namun program tersebut tidak berlanjut tanpa penjelasan yang memadai. Ia mencontohkan Jembatan Telen di desanya yang telah mendapatkan alokasi anggaran Rp12 miliar pada perubahan tahun ini, namun belum terlihat kejelasan kelanjutan dalam skema MYC. Hal serupa juga terjadi pada Jembatan Mara Haloq yang belum masuk prioritas pembangunan.

Menurutnya, penyusunan MYC harus melalui kajian matang, apalagi serapan anggaran tahun 2025 belum maksimal. Jika banyak proyek berjalan tidak optimal, pemerintah diminta lebih berhati-hati dalam menetapkan komitmen multiyears agar tidak menimbulkan ketimpangan. “Ini program pemerintah, kita hargai. Tapi kajiannya harus benar. Jangan sampai hanya satu dua wilayah yang masuk, sementara hulu Kutim tidak kebagian,” tegasnya.

Selain itu, Bahcok menyoroti kurangnya transparansi pada proyek fisik di lapangan. Ia menegaskan setiap kegiatan wajib memasang papan nama proyek agar masyarakat mengetahui sumber anggaran, nilai kontrak, dan pihak pelaksana. Sebagai wakil Dapil IV, ia mengingatkan bahwa masyarakat Telen, Muara Wahau, dan Kombeng menunggu pemerataan pembangunan yang nyata, dengan Jembatan Telen sebagai infrastruktur strategis untuk membuka konektivitas seluruh wilayah hulu Kutim. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Verified by MonsterInsights