SANGATTA — Anggota DPRD Kutai Timur dari Fraksi Persatuan Indonesia Raya (PIR), Baya Sargius, mendorong agar peningkatan infrastruktur di Zona 3 dan Zona 4 menjadi prioritas dalam Program Multi Years Contract (MYC) tahun 2026–2028. Ia menilai wilayah pedalaman Dapil IV kerap tertinggal dalam pembangunan, sehingga membutuhkan perhatian serius dan terencana.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas PUPR dan Bappeda Kutim di Ruang Hearing DPRD, Kamis (13/11/2025). Baya menegaskan bahwa MYC merupakan instrumen penting untuk pemerataan pembangunan, namun selama ini sejumlah ruas jalan dan jembatan di wilayahnya belum tersentuh secara optimal.
“Secara pribadi kami sangat mendukung MYC untuk percepatan pembangunan. Tetapi kondisi lapangan khususnya di Zona 3 dan 4 perlu ditangani segera. Jangan sampai wilayah kami terus dinomorduakan,” tegasnya.
Baya kemudian menyoroti ruas Jalan Simpang 3 PDC menuju Desa Benhes yang sudah lama rusak dan sempit. Selain menjadi akses vital masyarakat, jalur ini juga dipadati kendaraan perusahaan sawit, sehingga rawan kecelakaan dan perlu peningkatan.
Ia juga menekankan penyelesaian Jembatan Telen dan Jembatan Marah Haloq sebagai kebutuhan mendesak. Kedua jembatan tersebut merupakan penghubung utama menuju Long Masengat dan Busang, dan jika rampung akan membuka konektivitas Ancalong—Busang—Wahau—Long Masengat secara menyeluruh.
Selain itu, ia meminta perhatian penuh terhadap kondisi Jalan Poros Busang–Long Masengat yang masih berupa tanah dan sangat sulit dilintasi saat musim hujan. Jalur dari Long Masengat menuju Jembatan Muara Ancalong, kemudian ke Gemar Baru hingga Busang disebut sebagai akses krusial yang memengaruhi aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Baya berharap seluruh usulan tersebut dapat masuk dalam daftar prioritas MYC 2026–2028 agar masyarakat di pedalaman Kutim mendapatkan pembangunan yang adil dan merata.

